Pos-pos oleh Hasan Husen Assagaf

Desa Al-Abwa’

Desa Al-Abwa’

Al-Abwa’ adalah daerah yang terletak di perjalanan antara kota Madinah dan Makkah berjaraknya kurang lebih 140 km dari Madinah menuju arah Makkah. Tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Tempat ini tidak banyak dihuni pendukuk. Di sana ibu Rasulallah saw, Aminah binti Wahab bin Abdu manaf bin Zuhrah bin Kilab, wafat sepulangnya dari Madinah setelah bersilaturahim dengan keluarga suaminya dari bani ’Uday bin an-Najjar dan berziarah ke makam suaminya Abdullah bin Abdul Muthalib yang wafat di Madinah dalam perjalanan dagang ke Syam pada usia 25 tahun dan Rasullallah saw pada saat itu belum lahir masih dalam kandungan ibunya. 

Sepulangnya Aminah dari Madinah bersama sama Rasulallah saw yang pada saat itu berusia 6 tahu dan budak permpuannya Ummu Ayiman, ia singgah di perkampungan al-Abwa’ karena sakit keras, kemudian wafat di tempat itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Rasulallah saw yang masih berusia 6 tahun di saat ditinggalkan oleh ibunya di tempat terpencil jauh dari keluarga dan kampung halamannya.

Sebelum Ibunya meninggal dan dimakamkan di sana, Nabi saw yang baru berusia 6 tahun dititipkan kepada Ummu Ayiman untuk diserahkan kepada kakeknya Abdul Muthalib. Dan atas pertolongan penduduk al-Abwa’, Nabi saw dan Ummu Ayiman dipulangkan ke Makkah. Beliau diserahkan kepada Abdul Muthalib yang  mengambil alih tanggungjawab merawat beliau.

Diriwayatkan dalam sirah nabawiyah bahwa di saat penaklukan kota Makkah Rasulallah saw melewati daerah al-Abwa’, tempat dimana ibu beliau dimakamkan. Beliau meminat izin kepada Allah untuk menziarahi kuburannya. Setelah mendapat izin dari Allah beliau berdiri di muka pusara ibunya menangis dan suara tangisan beliau didengar oleh para sahabat.  Wallahu’alam

Dar An-Nadwah

Dar An-Nadwah 

Tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar. Dar an-Nadwah dibangun oleh Qushay bin Kilab kurang lebih tahun 200 sebelum hijrah Nabi saw. Dinamakan Dar an-Nadwah karena dibangun khusus untuk tempat kaum Quraisy Makkah  bermusyawarat. Jika ada satu masalah besar yang sulit untuk dipecahkan, mereka semua diundang untuk datang ke Dar an-Nadwah menyelesaikan masalah tersebut bersama sama.

Salah satu contoh misalnya penyelesaian persengketaan antara mereka di saat meletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Pernah Bangsa Quraisy merobohkan Ka’bah kemudian membangunnya kembali. Di saat akan memasang kembali Hajar Aswad, suku-suku dari bangsa Quraisy terlibat pertentangan, karena mereka pada merasa paling berhak untuk mengambil tugas memasang kembali Hajar Aswad pada posisinya semula. Karena perselisihan tidak bisa diredakan, mereka bermusyawarah di Dar an-Nadwah membuat suatu keputusan siapa yang berhak meletakan Hajar Aswad ke posisinya semula. Kemudian dibuat qur’ah atau sayembara siapa yang pertama kali masuk Baitullah dari pintu Bani Syaiba, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah. Sayembara dimenangkan oleh Rasulallah saw. Akhirnya Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain dan dibawa oleh semua kabilah Quraisy. Kemudian beliau menempelkan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula. Kisah ini sangat populer.

Di Dar an-Nadwah pernah kafir Quraisy bermusyawarat untuk membendung da’wah Nabi saw dan bersepakat untuk membunuh beliau di saat mereka mendengar bahwa beliau akan berhijrah ke Madinah. 

Umar bin Khattab ra di saat menjadi khalifah, sempat mampir ke Dar an-Nadwah begitu pula para Khulafa Rasyidin lainya selalu menyempatkan untuk datang ke Dar an-Nadwah Jika berada di Makkah

Pada masa pemerintahan al-Abbasi, terjadi pemugaran di Masjidil Haram dan Dar an-Nadwah disatukan dengan masjid yang terletak sebelah utara Ka’bah. Penyatuan ini dilakukan atas usulan beberapa orang diantaranya Qadhi Makkah dan guberdur Makkah pada masa itu yang diajukan kepada Al-Mutadhid Al-Abbasi. Setelah diruntuhkan, dibangun masjid yang bergabung dengan Masjidil Haram. Bangunan ini sangat indah, beratap jati, dihiasi dengan emas, dibuat beberapa pintu dan menara. Sekarang, Dar an-Nadwah sudah dibongkar untuk perluasan Masjidil Haram. Untuk mengenang tempat yang penuh sejarah itu dibangun sebuah pintu yang dinamakan Bab an-Nadwah atau pintu an-Nadwah.

Darul Arqam

Darul Arqam  

 

 

Darul Arqam mempunyai hubungan yang sangat erat dengan da’wah Nabi saw. Dulu Darul Arqam merupakan pusat da’wah Nabi saw secara tersembunyi. Di tempat ini sahabat Nabi saw berkumpul mempelajari agama dan salat bersama secara sembunyi-sembunyi tidak diketahui oleh kafir Quraisy karena belum datang perintah dari Allah untuk menjaharkan agama Islam. Bilangan orang yang masuk islam pada saat itu ada 40 orang. Di tempat tersebut Umar bin Khathab ra masuk islam. Kemudian Allah memerintahkan agar agama Islam dikembangkan di Makkah secara jahar. Dinamakan Darul Arqam berasal dari nama rumah sahabat Nabi saw Al-Arqam bin Abi Al-Arqam bin Asad Al-Makhzumi ra.

Pada tahun 171 H Darul Arqam yang terletak kurang lebih 36 m di luar timur bukit Sofa, dibangun sebuah masjid oleh Khaizuran, ibu Harun Ar-Rasyid. Kemudian pada tahun 1375 H tempat tersebut dibongkar untuk perluasan Haram. Sekarang Darul Arqam sudah disatukan menjadi tempat Sa’i dan untuk mengenang sejarah ini didirikan sebuah pintu yang diberi nama dengan pintu Darul Arqam.

Darul Arqam

Darul Arqam  

 

 

Darul Arqam mempunyai hubungan yang sangat erat dengan da’wah Nabi saw. Dulu Darul Arqam merupakan pusat da’wah Nabi saw secara tersembunyi. Di tempat ini sahabat Nabi saw berkumpul mempelajari agama dan salat bersama secara sembunyi-sembunyi tidak diketahui oleh kafir Quraisy karena belum datang perintah dari Allah untuk menjaharkan agama Islam. Bilangan orang yang masuk islam pada saat itu ada 40 orang. Di tempat tersebut Umar bin Khathab ra masuk islam. Kemudian Allah memerintahkan agar agama Islam dikembangkan di Makkah secara jahar. Dinamakan Darul Arqam berasal dari nama rumah sahabat Nabi saw Al-Arqam bin Abi Al-Arqam bin Asad Al-Makhzumi ra.

Pada tahun 171 H Darul Arqam yang terletak kurang lebih 36 m di luar timur bukit Sofa, dibangun sebuah masjid oleh Khaizuran, ibu Harun Ar-Rasyid. Kemudian pada tahun 1375 H tempat tersebut dibongkar untuk perluasan Haram. Sekarang Darul Arqam sudah disatukan menjadi tempat Sa’i dan untuk mengenang sejarah ini didirikan sebuah pintu yang diberi nama dengan pintu Darul Arqam.

Rumah Abu Sufiyan

Rumah Abu Abu Sufian Rasulallah saw di saat menaklukan kota Makkah pada hari Jumat tanggal 20 Ramadhan tahun 8 H, beliau besabda “Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufiyan maka amanlah dia”. Dengan demikian rumah Abu Sufiyan menjadi bukti sejarah bagi umat Islam. Rumah Abu Sufiyan terletak di tanjakan pertama menuju bukit Marwah. Antara rumah Abu Sufiyan dan rumah Handhalah bin Abi Sufiyan tedapat pasar rempah rampah, minyak samin, madu dll yang dibawa para jama’ah haji dari negara negara mereka dan dijual di pasar itu. Tempat itu sekarang sudah menjadi tempat sa’i.

Rumah Abbas bin Abdul Muthalib

Rumah Abbas bin Abdul Muthalib

Rumah paman Nabi saw Abbas bin Abdul Muthalib terletak di tempat Sa’i antara Sofa dan Marwah, temboknya melekat di salah satu batas ”Mailain” yaitu batas dimana para jama’ah haji disunahkan untuk berlari kecil. Batas tersebut sekarang telah ditandai dengan dua garis tanda hijau atau disebut juga “pilar hijau”.  Jika masuk pada batas garis tersebut disunnahkan raml atau harwalah (lari kecil).

Dulu rumah Abbas ra pernah dijadikan rubath untuk orang orang faqir dan diberinama Rubath Al-Abbas dan diberi tanda dengan bendera hijau. Menurut sheikh Taqiyuddin  Al-Fasi rumah ini dulu pernah dijadikan tempat wudhu kemudian dirubah menjadi Rubadh Al-Abbas. Tempat ini sekarang sudah bersatu dengan tempat sa’i dan untuk mengenangnya dibuat sebuah pintu besar masuk ke Masjid dinamakan Pintu al-Abbas.

Rumah Siti Khadijah

Rumah Siti Khadijah

 

  

 Arah panah (Rumah Siti Khadijah)                                                Tempat lahir Siti Fatimah

Rumah siti Khadijah terletak di Zuqaq Al-Hajar. Di rumah ini Rasulallah saw hidup berumah tangga bersama siti Khadijah ra, istri beliau yang tidak pernah dimadu, selama 28 tahun dan semua putra putri beliau lahir di tempat ini,  diantaranya Qasim, Abdullah, Ummu Kaltsum, Ruqayah, Zainab dan Fatimah, putri bungsu beliau. Dan rumah itu pula siti Khadijah wafat.

Nabi saw tetap tinggal di rumah ini sampai beliau mendapat perintah dari Allah untuk berhijrah ke Madinah. Menurut Sayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki dari Al-Azraqi rumah ini merupakan tempat yang paling afdhol setelah Masjidil Haram, karena tidak sedikit wahyu turun di tempat ini. Setelah hijrah Nabi saw ke Madinah, rumah siti Khadijah diambil oleh Aqil bin Abi Thalib ra kemudian dijual kepada Muawiyah bin Abi Sufiyan yang pada saat itu menjabat sebagai Khalifah, lalu oleh Muawiyah dibangun Masjid.

 

Pada tahun 1373 H rumah siti Khadijah dijadikan Sekolah Puteri Al-Quran oleh Syeikh Abbas Al-Qattan yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Makkah, sesuai dengan permintaannya kepada pemerintah setempat. Setelah disetuji oleh pemerintah, tempat itu menjadi wakaf yang tidak bisa diperjual-belikan, atau disewakan, tidak bisa berpindah tangan, ditukar atau dipinjamkan. Pada tahun 1401 H, tempat ini kemudian diambil-alih oleh pemerintah dan dibongkar untuk perluasan halaman Masjidil Haram. Pada saat pembongkaran tempat tersebut, ditemukan bekas bekas peninggalan Nabi saw, seperti Mihrab Nabi yang menghadap ke Ka’bah, Bak wudhu Nabi, kamar Nabi, tempat lahir siti Fatimah dll.

 

Setelah dibongkar rumah ini dijadikan lataran Masjidil Haram yang letaknya sekarang dekat Bab an-Nabi (Pintu Nabi) atau beberapa langkah dari pintu tersebut. Dulu di tempat itu dibuatkan sebuah kubbah kecil yang diberi nama dengan Kubbah Al-wahy artinya kubbah tempat turunya wahyu, karena seringnya wahyu dari Allah turun melalui Jibril as di rumah ini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.