Pos-pos oleh Hasan Husen Assagaf

Rumah Siti Khadijah

Rumah Siti Khadijah

 

  

 Arah panah (Rumah Siti Khadijah)                                                Tempat lahir Siti Fatimah

Rumah siti Khadijah terletak di Zuqaq Al-Hajar. Di rumah ini Rasulallah saw hidup berumah tangga bersama siti Khadijah ra, istri beliau yang tidak pernah dimadu, selama 28 tahun dan semua putra putri beliau lahir di tempat ini,  diantaranya Qasim, Abdullah, Ummu Kaltsum, Ruqayah, Zainab dan Fatimah, putri bungsu beliau. Dan rumah itu pula siti Khadijah wafat.

Nabi saw tetap tinggal di rumah ini sampai beliau mendapat perintah dari Allah untuk berhijrah ke Madinah. Menurut Sayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki dari Al-Azraqi rumah ini merupakan tempat yang paling afdhol setelah Masjidil Haram, karena tidak sedikit wahyu turun di tempat ini. Setelah hijrah Nabi saw ke Madinah, rumah siti Khadijah diambil oleh Aqil bin Abi Thalib ra kemudian dijual kepada Muawiyah bin Abi Sufiyan yang pada saat itu menjabat sebagai Khalifah, lalu oleh Muawiyah dibangun Masjid.

 

Pada tahun 1373 H rumah siti Khadijah dijadikan Sekolah Puteri Al-Quran oleh Syeikh Abbas Al-Qattan yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Makkah, sesuai dengan permintaannya kepada pemerintah setempat. Setelah disetuji oleh pemerintah, tempat itu menjadi wakaf yang tidak bisa diperjual-belikan, atau disewakan, tidak bisa berpindah tangan, ditukar atau dipinjamkan. Pada tahun 1401 H, tempat ini kemudian diambil-alih oleh pemerintah dan dibongkar untuk perluasan halaman Masjidil Haram. Pada saat pembongkaran tempat tersebut, ditemukan bekas bekas peninggalan Nabi saw, seperti Mihrab Nabi yang menghadap ke Ka’bah, Bak wudhu Nabi, kamar Nabi, tempat lahir siti Fatimah dll.

 

Setelah dibongkar rumah ini dijadikan lataran Masjidil Haram yang letaknya sekarang dekat Bab an-Nabi (Pintu Nabi) atau beberapa langkah dari pintu tersebut. Dulu di tempat itu dibuatkan sebuah kubbah kecil yang diberi nama dengan Kubbah Al-wahy artinya kubbah tempat turunya wahyu, karena seringnya wahyu dari Allah turun melalui Jibril as di rumah ini

Tempat Lahir Nabi

Menziarahi tempat tempat bersejarah seperti tempat kelahiran Nabi saw, rumah yang dihuni Nabi saw bersama siti Khadijah, masjid masjid yang disolati Nabi saw, bukit bukit yang ditanjaki Nabi saw, gua gua yang didiami Nabi saw,  tempat tempat yang disinggahi Nabi saw, atau makam yang disemayamkan Nabi saw merupakan sebagai bukti nyata kecintaan manusia terhadap Rasulallah saw. Kelakuan ini boleh juga dikatakan hal yang terpuji, asal saja tidak keluar dari rel- rel syariat yang telah ditetapkan Allah dan Rasul Nya. Adapun yang dimaksud disini bukan berarti kita memuja-muja tempat tempat tersebut atau bukan berarti bahwa beliau telah menjelma di tempat tempat trb, namum yang dimaksudkan ialah untuk mengingat jasa perjuangan beliau dan mengingatkan ketinggian dan keluhuran martabat beliau di sisi Allah.

 

Tempat Lahir Nabi

 

Telah diyakini bahwa Rasulullah saw lahir di kaki Jabal Abi Qubais yang terletak di kampung Suqul-lail, Makkah. Kini rumah tempat kelahiran beliau itu menjadi perpustakaan umum. Tertulis didepannya huruf Arab “Maktabah Makkah al-Mukarramah” yang artinya “Perpustakaan Mekkah al-Mukarramah”. Dan umat Muslim dari mancanegara selalu memadati tempat itu. Sebagai ungkapan rindu kepada Nabi akhir zaman, pemimpin yang memberi syafaat hingga hari kiamat.

Kondisi tempat kelahiran Nabi saw yang berukuran sekitar 10X18 meter ini, cukup memperihatinkan dan banyak yang menyatakan kekecewaan bahwa tempat tersebut seharusnya diberi perhatian lebih sebagaimana Rasulullah saw juga memperhatikan Ka’bah yang kemudian oleh para penerusnya diperbaiki dan disempurnakan guna meningkatkan aqidah dan ketakwaan kepada Allah. Bahkan untuk memasuki tempat itu tidak semudah yang kita duga. Penjaga kerap kali mengingatkan agar setiap pengunjung cukup melihat dari pintu saja. Tak boleh berlama-lama.

Tempat ini dulunya dikenal dengan lembah Abu Thalib. Ketika Nabi saw hijrah ke Madinah, rumah ini ditinggali oleh Aqil bin Abi Thalib yang kemudian didiami oleh anak turunannya.

Selanjutnya rumah itu dibeli oleh Khaizuran, ibu Harun Arrasyid, dan dibangun sebuah masjid. Lantas masjid tersebut dibongkar dan sempat tempat itu terbengkalai. Pada tahun 1370/1950, tempat lahir Nabi saw dijadikan wakaf perpustakaan atas permintaan Sheikh Abbas Al-Qattan yang menjabat sebagai gubernur kota Makkah pada saat itu. Permintaannya disetujui oleh pemerintah Saudi dengan syarat wakaf ini tidak bisa dijual-belikan atau disewakan, atau tidak bisa dihadiahkan kepada siapapun, atau tidak bisa ditukar atau dipinjamkan kepada siapa pun.

 

 

Masjid Dzi Thuwa

Masjid Dzi Thuwa

Dzi Thuwa merupakan wadi yang mempunyai kaitan dengan sejarah Rasulallah saw. Tempat ini dikenal karena keberadaannya sebuah sumur Dzi Thuwa yang terletak di daerah Jarwal yang sekarang penuh dihuni oleh penduduk Makkah. Rasulallah saw pernah bermalam di tempat tersebut dan mandi di sumurnya kemudian beliau masuk Haram disaat melakukan haji dan umrah. sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Telah berlalu lebih dari 14 abad tapi sumur ini sampai sekarang masih tetap bertahan keberadaanya di daerah Jarwal dekat dengan rumah sakit bersalin. Untuk mengenang tempat dimana Rasulallah saw bermalam dibangun sebuah masjid yang diberi nama dengan masjid Bir Dzi Thuwa. Bir artinya sumur yang Konon diriwayatkan bahwa seribu nabi pernah singgah di tempat ini. Wallah’alam

 

Masjid Ijabah

Masjid Ijabah

Masjid ini mempunyai nilai dalam sejarah Makkah, terletak di sekitar daerah al-Ma’abdah, di lembah perkampungan keluarga Qunfudh. Daerah ini terletak di sebelah kiri kalau kita dari Masjidil Haram menuju Mina. Di tempat ini Rasulallah saw pernah mendirikan solat, dan dibangun bekas tempat solat Nabi saw sebuah masjid sebelum tahun 3 H.

Dulu masjid ini tidak terawat, sangat rusak, tembok bagian depan hampir roboh. Di muka tembok masjid terdapat pelang terbuat dari batu kuno, terukir nama masjid Ijabah. Kemudian masjid ini dipugar pada tahun 720 H. panjang masjid dari tembok mihrab ke tembok depan kurang lebih 18 hasta dan lebarnya juga sama 18 hasta. Sekarang masjid itu setelah dipugar ulang mejadi masjid yang cukup mewah.

Masjid Al-Hudaibiyah

Masjid Al-Hudaibiyah

 

Masjid ini terletak di daerah Al-Hudaibiyah yaitu daerah yang berada di perjalanan antara Makkah ke Jeddah. Jaraknya kurang lebih 25 km dari Masjidil Haram. Daerah itu sekarang dikenal dengan nama daerah Al-Syumaisyi. Dinamakan Hudaibiah karena berasal dari nama seorang laki-laki menggali sumur di tempat tersebut, kemudian dinisbatkan daerah itu kepadanya dan diberi nama dengan nama daerah Hudaibiah begitu pula sumurnya. Di dekat sumur terdapat pohon yang cukup rindang, namanya pohon Hadba’.

Di tempat inilah dan di bawah pohon telah terjadi bai’at, tepatnya pada tahun 7 H. Bai’ait ini disebut juga dengan bai’at al-Ridhwan yang dilakukan Rasulallah saw di bawah pohon. Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw mengundang orang orang Islam yang bilangannya pada saat itu kurang lebih 1400 orang untuk berbuat bai’ait kepada Rasulallah saw di daerah Hudaibiyah, dan bai’at ini terjadi  di bawah pohon sebagai mana tertera dalam Al-Quran surat al-Fath:18

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

 

”Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”

 

Di daerah ini pula dan di tahun yang sama telah terjadi perdamaian antara Rasulallah saw dengan orang orang kafir Makkah selama 10 tahun. Yang menulis perjanjian perdamaian pada waktu itu adalah Imam Ali bin Abi thalib ra. Setelah perdamaian berjalan selama 2 tahun, orang orang kafir Makkah melanggar perjanjian trb. Perdamaian ini terkenal dengan nama perdamaian Hudaibiyah.

Di daerah itu telah dibangun lagi sebuah masjid yang diberi nama dengan masjid Ar- Ridhwan. Masjid kuno ini masih tetap bertahan dan dibangun sebelahnya sebuah masjid baru yang berdampingan dengan masjid yang lama.      

 

Masjid Asy-Syajarah

Masjid Asy-Syajarah                                  

Masjid Syajarah artinya Masjid Pohon yang dinisbatkan kepada sebuah pohon yang letaknya berdekatan dengan Masjid Jin, kurang lebih 3 km dari Masjidil Haram. Diriwayatkan bahwasanya di tempat tersebut Nabi pernah memanggil pohon untuk ditanya tentang sesuatu. Pohon itu datang memenuhi pangilan Nabi saw. Ia mendekat kepada beliau lengkap dengan batang dan akarnya seperti tercabut dari tanah, lalu berhenti di hadapan beliau. Setelah selesai urusan Nabi saw dengan pohon itu lalu beliau memerintahkannya untuk kembali lagi ke tempatnya semula.

Masjid Jin

Masjid Jin

Masjid Jin terletak di al-Hujun, di daerah Sulaiminiyah di sebelah selatan Pekuburan Ma’la, jaraknya kurang lebih 3 km dari Masjidil Haram. Masjid ini termasuk masjid yang punya nilai penting dalam sejarah Islam, makanya banyak dikunjungi jama’ah haji atau umrah.

Kalau diperhatikan sebetulnya masjid ini terhitung sangat sederhana. Tapi jutaan peziarah selalu menyempatkan untuk mengunjunginya. Mereka pada umumnya datang bukan hanya untuk melaksanakan shalat ataupun duduk beri’tikaf di dalamnya. Mereka datang juga untuk melihat dari dekat tempat bersejarah ketika Nabi saw menerima wahyu sehingga turunnya ayat ayat al-Qur’an yang kemudian dipatenkan nama Surat Jin.

Masjid yang ukurannya kurang lebih 12×22 meter ini merupakan tempat yang memiliki riwayat penting dalam da’wah Rasulallah saw . Diriwayatkan ketika Nabi saw dan para sahabat sedang salat subuh di tempat tersebut dan dibacakan beberapa ayat Al-quran, sekumpulan Jin melewati tempat itu dalam perjalanan mereka ke Tihamah. Mereka mendengar bacaan beliau dan merasa kagum. Setelah Rasulallah saw membacakan Alquran, para jin ini kemudian membai’at Nabi saw untuk beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Makanya masjid ini juga di beri nama “Masjid Bai’ah”, karena ditempat ini para Jin berjanji (ber-bai’at) kepada Rasulullah saw.

Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Quran dan suratnya dinamakan surat al-Jin. Di tempat itulah Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw dalam surat Al-Jin ayat 1-2 yang berbunyi:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوۤاْ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً * يَهْدِيۤ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَداً

 

Telah diwahyukan kepadamu bahwa sekumpulan Jin mendengarkan ayat Al-quran. Lalu mereka berkata: “sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-quran yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, karena itu kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT kami dengan siapapun juga”.

 

 

Masjid ar- Rayah

Masjid ar- Rayah

Masjid ini terletak di sebelah atas Masjidil Haram di al-Judriyah, tempatnya di tanjakan al-Mudda’a ke arah al-Ma’la. Antara masjid dan rumah rumah penduduk terdapat gang sempit yang menuju ke jalan raya. Di tempat tersebut terdapat sumur Jubair bin Muth’im bin Uday bin Naufal. Sumur ini disebut juga dengan sumur Al-‘Ulya, letaknya di gang sempit tersebut dan berdempetan dengan tembok rumah penduduk. Sumur ini terasingkan dan tidak banyak diketahui orang..

Dalam bahasa Arab al-Rayah artinya bendera. Adapun sebabnya dinamakan masjid Al-Rayah karena Nabi saw disaat penaklukan kota Makkah tahun 8H, sempat tiba di sumur Jubair bin Muth’im bin Uday. Di sana beliau berdiri besama tentara muslim yang bilangannya 10000 dan menacapkan bendera kemudian beliau salat di tempat tersebut.

Dulu tempat ini tidak dihuni penduduk. Menurut riwayat Nabi saw pernah solat di tempat ini, Pada zaman Al-Mu’tashim Al-Abbasi tahun 640 H masjid ini dipugar dan dibangung di sebelahnya sebuah masjid lain berdekatan dengan masjid Al-Rayah.

Kemudian Masjid ar-Rayah ini dipugar lagi tahun1361 H, dan di saat pembongkaran pondasi lama, ditemukan dua batu tulis yang menunjukan keberadaan masjid ar-Rayah di tempat itu. Salah satu batu tulis ini bertahun 989 H dan yang satu lagi bertahun 1000 H. Kedua batu tulis itu sekarang dilekatkan tembok masjid yang telah dipugar. Sedangkan masjid yang terletak di tengah tengah antara jalan al-Judriyah dan jalan Al-ghazzah dinamakan masjid Malik Fahed (Raja Fahad). 

 

Masjid Al-Ji’ranah

Masjid Al-Ji’ranah

Disebut Ji’ranah atau penduduk Makkah menyebutnya Ju’ranah, berasal dari nama sebuah perkampungan kecil yang berdekatan dengan Masjidil Haram, terletak di lembah atau wadi Saraf sebelah selatan ke arah Makkah. Di desa ini tedapat sebuah masjid yang dikenal dengan nama masjid Ji’ranah. Masjid ini selalu digunakan penduduk Makkah untuk melakukan ihram saat umrah atau haji. Desa Ji’ranah merupakan perbatasan kota Haram dari selatan Makkah ke arah Thaif. Rasulallah saw pernah singgah di tempat ini sepulangnya dari perang Hunain dan sempat membagikan harta rampasan perang di sana.

Karena Ji’ranah merupakan tanda batas haram, maka dari sanalah Rasulallah saw berihram untuk melakukan umrahnya yang ke tiga kalinya. Ibdu Abbas meriwayatkan bahwa bahwa Rasulallah saw melakukan umrah selama hidupnya sebanyak 4 kali, pertama umrah Hudaibiyah, kedua umrah Qadha’, ketiga umrah yang dilakukanya dari Ji’ranah sepulangnya dari perang Hunain, keempat umrah pada saat melakukan haji wada’. Dan tempat dimana Rasulallah saw melakukan umrah dari Ji’ranah dibangun sebuah masjid yang diberi nama dengan nama ”Masjid Ji’ranah”.

Ji’ranah merupakan tempat miqat umrah yang paling afdhal bagi penduduk Makkah, ini menurut kebanyakan pendapat para ulama. Rasulallah saw sendiri melakukan umrah dari ji’ranah. Beliau bermukim di sana selama 13 hari dan berihram dari sana.

Masjid Ji’ranah sangat populer sekali di kalangan kamu muslimin baik bagi penduduk Makkah atau luar Makkah. Masjid ini telah dipugar berkali kali dari zaman ke zaman sepanjang sejarah. Kemudian pada pemerintahan Saudi dibangun masjid besar bersebelahan dengan masjid yang lama yang tidak terpisahkan. 

 

 

Masjid Al-Tan’im

Masjid Al-Tan’im

Tan’im merupakan  batas tanah haram Makkah dari arah Madinah, terletak di sebelah utara Makkah,  jaraknya atara Tan’im dan Bab Umrah di Makkah kurang lebih 7 km. Tempat tempat yang berdekatan dengan Tan’im memiliki beberapa nama diantaranya gunung yang letaknya di sebelah selatan dinamakan gunung Na’im, sedangkan gunung yang letaknya di sebelah utara dinamakan gunung Mun’im, dan wadi (lembah) yang berada di tempat tersebut dinamakan wadi Nu’man atau wadi Tan’im.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi saw melakukan ihram untuk umrah dari tempat ini. Dan riwayat lainya Rasulallah saw memerintahkan Abdurahman bin Abubakar ra untuk membawa adiknya ‘Aisyah, istri Nabi saw, ke Tan’im untuk berihram dari sana waktu ia akan melakukan umrah setelah haji wada’ bersama Nabi saw masih dalam bulan Dzul Hijjah. Di tempat ini kemudian didirikan sebuah masjid yang dikenal dengan nama masjid Tan’im atau masjid siti ‘Aisyah ra.

Juga masjid ini dikenal penduduk setempat dengan nama masjid “Khaimah Jumanah”. Jumanah adalah puteri Abu Thalib, adik perempuan Ali bin Abi Thalib. Tapi masjid itu lebih tersohor dengan nama masjid Tan’im atau “masjid ‘Aisyah”

Konon dari dahulu masjid ini telah direnovasi berkali kali dan sekarang masjid ini telah menjadi masjid terbesar di daerah Al-Umrah yang penuh dihuni dengan penduduk. 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.