Posts tagged ‘tempat bersejarah’

Masa Penguasa Mesir

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

Konon kisahnya sebelum itu di Masjidil Haram terjadi kebakaran besar, tepatnya pada tahun 802 H. Kemudian tempat yang terbakar dibangun kembali oleh Sultan Barquq, penguasa Mesir pada waktu itu. 

 

Mulailah pada pemerintahan Sultan Salim terjadi renovasi dan perbaikan terhadap Masjidil Haram. Karena ia mendapatkan laporan bahwa bangunan Haram sudah mulai rapuh bahkan sebagian sudah ada yang runtuh karena tua. Ia Menghancurkan bangunan masjid yang dibangun oleh Al-Mahdi setelah bangunan tersebut berumur kurang lebih 810 tahun disebabkan karena banyaknya kerusakan-kerusakan. Ia membangun ulang Masjidil Haram dengan tidak memberi atap kayu tapi atapnya dibangun seperti kubah.

Proyek ini dilaksakan pada tahun 979 H dan konon pernah terhenti, kemudian dilanjutkan oleh putranya sultan Murad Salim pada tahun 984 H. Perluasan ini besar-besaran dan Masjidil Haram mejadi masjid termegah dan terindah pada zamannya

Masa Abbasiyah

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

Kemudian diteruskan perluasan Masjidil Haram oleh Abu Ja’far Al-Mansur, salah satu pemimpin daulah Abasiyah yang beribu kota di Baghdad. Khalifah kedua dari Bani Abbasiyah ini mengadakan perluasan pada sisi arah rukun Syamiyah dan sisi arah barat. Perluasan dimulai pada bulan Muharam 137 H dan selesai pada bulan Dzul Hijjah 140 H. Al-Mansur menambah luas masjid menjadi satu setengah dari laus masjid sebelumnya.

Setelah wafatnya Abu ja’far Al-Mansur, perluasan Masjidil Haram dilanjutkan oleh putranya Al-Mahdi. Pada saat itu nsinyur pembangunannya sudah sangat maju sehigga bentuk bangunannya indah dan kokoh. Al-Mahdi mengadakan perluasan dari sebelah atas dan arah rukun Yamani. Perluasan ini dilakukannya dua kali pertama pada tahun 161 H dengan memperluas dua serambi. Dan yang kedua pada tahun 167H, tapi tidak selesai karena ia keburu wafat. Kemudian perluasan dirampungkan oleh puteranya Musa Al-Hadi.

 

Dalam perluasan kedua ini, Al-Mahdi banyak mengeluarkan biyaya yang cukup besar. Ia merenovasi tiang tiang di kawasan Masjid dan mendatangkan tiang batu pualam dari Suria dan negara lainya yang dibawa melalui via laut ke pelabuhan Jeddah, kemudian dibawa ke Makkah. Kemudian terjadi penyatuan Dar An-Nadwah dengan masjidil Haram. Penyatuan ini dilakukan atas usulan beberapa orang diantaranya Qadhi Makkah dan guberdur Makkah pada masa itu yang diajukan kepada Al-Mutadhid Al-Abbasi. Setelah diruntuhkan, dibangun masjid yang bergabung dengan Masjidil Haram. Bangunan ini sangat indah, beratap jati, dihiasi dengan emas, dibuat beberapa pintu dan menara.

Kemudian perluasan dilanjutkan oleh Al-Muqtadir Billah al-Abbasi pada tahun 306. Ia membangun pintu gerbang besar  masuk Masidil Haram yang diberi nama dengan Bab Ibrahim (pintu Ibrahim) yang terletak ke arah barat Masjid. Dan ini merupakan taraf terkahir perluasan Masjidil Haram yang dilakukan oleh dinasti Abasiyah. Setelah itu yang terjadi hanyalah renovasi dan pemugaran kecil kecilan sehingga datang masa Sulthan Salim Bik bin Sulaiman Khan tahun 979 H.

Masa Nabi Dan Khulafa’

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

Pada zaman Rasulullah, masidil Haram masih sangat sederhana, tak ada dinding atau bangunan beratap yang mengelilingi masjid. Masjidil haram hanya di kelilingi rumah-rumah penduduk, jalan yang menuju ke Masjidil Haram adalah gang-gang rumah penduduk yang ada di sekitar ka’bah. Diantara rumah rumah penduduk bisa menjadi pintu pintu masuk bagi orang yang ingin thawaf atau sholat di Ka’bah.  

Pada masa khilafah Umar bin Khathab ra, islam mulai menyebar keseluruh jazirah Arab, umat islam bertambah banyak, Masjidil Haram terasa sempit bagi para jama’ah haji yang berdatangan ke Makkah terutama pada musim haji sehingga beliau memandang perlu adanya perluasan Masjidil Haram. Akhirnya khalifah Umar bin Khathab ra mengambil keputusan untuk membeli rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar ka’bah, dan bagi yang keberatan menjualnya, beliau menyimpan uang harga rumah tersebut di Baitul Mal hingga akhirnya merekapun mengambilnya. Lalu rumah rumah tersebut dihancurkannya untuk perluasan Masjidil Haram. Hal ini terjadi pada tahun17 H. Menurut sejarah khalifah Umar adalah orang yang pertama melakukan perluasan masjidil haram dan membangun tembok di sekeliling masjid yang tingginya kurang lebih 1,5 meter dan memberinya pintu-pintu dan meneranginya dengan lampu-lampu gindil.

Setelah wafat Khalifah Umar ra, perluasan Masjidil Haram diteruskan oleh Khalifah kedua Ustman bin Affan ra. Karena jumlah muslimin bertamah banyak, maka pada tahun 26 H, Utsman ra menambah perluasan Masjidil Haram seperti apa yang telah di lakukan Umar bin Khathab ra yaitu dengan membeli rumah rumah penduduk di sekitar masjid. Diantara mereka ada yang keberatan menjualnya lalu meperotes, tapi perluasan terus dijalannkan oleh Utsman ra. Beliau juga membangun tembok yang mengelilingi masjid dan memberinya atap. (lihat kitab Akhbar Makkah oleh al-Azraqi)

Makkah Sebelum Dan Sesudah Nabi Ibrahim

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

  

Sungguh Makkah adalah kota suci dan mulia, kota yang penuh dengan cahaya dan keberkahan Nabi saw. Kesucian tanah ini memiliki batas batas. Dan pertama orang yang menentukan batas-batas tanah haram adalah nabi Ibrahim as atas petunjuk Jibril as. Kemudian diperbaharui oleh Rasulullah saw pada waktu penaklukan Makkah tahun 8 H. Dan seterusnya diperbaharui lagi oleh Umar bin Khathab ra, Usman bin Affan ra dan pemimpin-pemimpin Islam lainnya. Adapun batas batas kota Makkah diantaranya, Hudaibiyah, wadi ’Uranah, Tan’im dan Ji’ranah.

Dulu Masjidil Haram merupakan tanah kosong yang lapang dan tidak ada bangunan disekelilingnya, yang ada hanya tempat thawaf di sekeliling Ka’bah dan halaman untuk shalat. Setelah ada tanda tanda kehidupan di Makkah dengan datangnya nabi Ibrahim dan anaknya Ismail as dan ditemukannya air Zam Zam oleh siti Hajar mulailah manusia berdatangan dari Jazirah Arab, lalu dibangun kemah kemah penduduk yang berdekatan dengan Ka’bah.

Makkah Bersih Dari Musyrikin

Oleh: Hasan Husen Assagaf 

Setelah menetap di Makkah beberapa hari, Rasulallah saw kembali ke Madinah. Arus manusia yang ingin masuk islam dari Makkah tidak bisa tidak dibendung. Satu demi satu datang ke Madinah untuk mengikrarkan kesialamannya di hadapan Rasulallah saw. Musim haji mulai dekat, namun beliau tidak bisa berangkat bersama para sahabat untuk melaksanakan haji. Para utusan dari Makkah datang silih berganti, karena masih banyak manusia di sekitar Makkah dan Madinah yang belum beriman. Juga masih terdapat beberpa orang kafir penyembah berhala yang datang ke makkah untuk melakukan ibadah haji ke Ka’bah pada bulan bulan Haram. Cara dan adat jahiliyyah masih banyak diterapkan oleh sebagian orang yang  belum masuk islam saat melakukan haji.

Kemudian rombongan Haji di bawah pimpinan Abu bakar Siddik ra berangkat dari Madinah mewakili Rasulallah saw pada akhir bulan Dzul Qa’dah tahun ke 9 H. Jumlah rombongan pada waktu itu kurang lebih 300 orang. Dan tidak sedikit pula rombongan orang orang kafir dari berbagai negara berangkat pada waktu yang sama untuk melakukan Haji. Pada saat itu belum ada larangan terhadap mereka untuk melakukan haji. Sedangkan Ka’bah sudah dibebaskan oleh Rasulallah saw dari penyembahan berhala. Tidak ada satupun berhala yang bercokol di di luar atau di dalam Ka’bah. Abubakar Siddiq ra membawa 20 ekor unta milik Nabi saw dan 50 ekor unta miliknya sendiri untuk di sembelih di Makkah sebagai korban.

 

Tatkala kafilah haji yang dipimpin oleh Abubakar Shiddiq ra tiba di satu tempat yang bernama Dzul Hulaifah, yang tidak berjauhan dari kota Madinah, Rasullah saw mengutus Ali bin Abi Thalib ra untuk menyusul kafilah membawa amanat dari Allah berupa ayat Al-Qur’an, surat At Taubah ayat 28, agar ayat ini diterapkan bagi orang orang kafir yang ingin melakukan haji pada tahun itu. Firman itu berbunyi:

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَآءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Di sini Allah memerintahkan kaum muslimin yang beriman dan bersih menurut aqidah dan keyakinan agar mencegah kaum musyrikin yang najis aqidah dan keyakinannya terhadap Islam untuk masuk ke Masjidil Haram dan jangan membiarkan mereka mendekatinya. Yang dimaksud dengan masjidil Haram adalah seluruh kota Makkah tidak boleh dimasuki orang kafir. Pengerian najis disini adalah nijis akidah dan ruhaninya bukan najis jasmaninya. Karena kekufuran dalam aqidah berarti najis ruhaniyahnya. 

 

Setelah bertahallul pertama, rombongan Haji turun ke Makkah dari Mina untuk melakukan solat Eidul Adha. Pada saat itu Imam Ali ra yang membawa amanat dari Rasulallah saw memgumumkan: “Wahai manusia, janganlah ada lagi setelah tahun ini seorang musyrik melaksanakan Haji dan jangan ada lagi orang yang berthawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Barang siapa yang mengikat perjanjian dengan Rasulallah saw maka tetaplah dengan perjanjiannya hingga waktu yang telah ditetapkan. Dan diberi tangguh kepada orang orang yang mengikat perjanjian ini selama 4 bulan setelah hari diumumkan agar setiap kaum kembali ke negeri mereka”.  Begitulah bunyi khutbah Imam Ali bin Abi Thalib ra di hadapan rombongan yang sedang melakukan Haji. 

Maka sejak pengumuman itu tidak ada lagi orang musyrik yang melakukan ibadah Haji dan tidak ada lagi orang yang berthawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang seperti yang dilakukan orang orang jahiliyah sebelum datangnya fajar Islam. Jelasnya bahwa kota Makkah telah dibersikan dari kaum musyrikin dan ditetapkan sebagai kota suci Islam yang pertama.

 

Nabi Masuk Makkah

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

Ketika Rasulullah turun ke Makkah dan manusia sudah merasa tenang, beliau pergi ke Baitullah  dengan mengenadarai untanya yang bernama Al-Qashwa. Kemudian beliau melakukan thawaf sebanyak tujuh kali putaran di atas unta beliau dan setiap putaran beliau mengusap rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad dengan tongkatnya.

Usai melakukan thawaf, beliau memanggil Utsman bin Thalhah untuk mengambil kunci Ka’bah darinya. Beliau membuka Ka’bah dan masuk kedalamya. Disana beliau mendapati patung burung merpati dari kayu, kemudian beliau memecahkannya dan membuangnya. Dan di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala. Beliau menyodok berhala berhala tersebut dengan tongkatnya hingga jatuh tersungkur sambil membaca ayat,

وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

 

”Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (Al-Isra’: 81)

Setelah itu, Rasulullah saw berdiri di depan Ka’bah, sedang manusia berkumpul di Masjidil Haram, kemudian beliau membacakan ayat al-Qu’an yang berbunyi:

يأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُواْ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal; sesungguh-nya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujurat: 13)

Lalu Beliau bersabda, ”Hai orang-orang Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku perbuat terhadap kalian”. Orang-orang Quraisy menjawab, ”Kebaikan, karena engkau saudara yang baik dan anak saudara yang baik”. Rasulullah bersabda, ”Pergilah dan kalian semuanya bebas”.

Ibnu Hisyam berkata, salah seorang ulama berkata kepadaku bahwa Rasulullah saw memasuki Baitullah pada hari penaklukan Makkah, kemudian melihat gambar-gambar para malaikat dan lain-lain di dalamnya. Beliau juga melihat Nabi Ibrahim as digambar dengan memegang dadu untuk undian. Beliau bersabda, ”Semoga Allah mematikan mereka. Mereka menjadikan orang tua kita, Nabi Ibrahim, mengundi dengan undian. Apa kaitan Ibrahim dengan undian, padahal Allah berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيّاً وَلاَ نَصْرَانِيّاً وَلَكِن كَانَ حَنِيفاً مُّسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِين

”Ibrahim bukan orang Yahudi dan bukan pula seorang Nashrani, akan tetapi dia orang yang lurus dan muslim dan dia sekali-kali tidak termasuk golongan orang-orang yang musyrik”. (Ali Imran: 67).

Setelah itu, beliau memerintahkan penghancuran gambar-gambar tersebut”.

Rasulullah memasuki Ka’bah pada hari penaklukan Makkah hari Jumat 19 Ramadhan. Adapun jumlah keseluruhan kaum muslimin yang menghadiri penaklukan Makkah adalah sepuluh ribu orang, Keseluruhan mereka berasal dari Quraisy, kaum Anshar, sekutu-sekutu mereka, dan kabilah-kabilah Arab dari Tamim, Qais, dan Asad. Mulai saat itu suara adzan mendengung di kota Makkah setelah Rasulallah saw menyuruh Bilal mengumandangkan adzan di atas Ka’bah pada hari penaklukan.

 

Ada kisah yang menarik disaat penaklukan kota Makkah yaitu ada seseorang bernama Fadhalah bin Umair bin Al-Mulawwih Al-Laitsi hendak membunuh Rasulullah ketika beliau sedang thawaf di Baitullah di hari penaklukkan Makkah. Ketika ia telah berdekatan dengan Rasulullah saw, beliau bersabda kepadanya, “Apakah engkau Fadhalah?” Fadhalah bin Umair menjawab, “Betul, wahai Rasulullah, aku Fadhalah”. Rasulullah bersabda, “Apa yang telah engkau katakan kepada dirimu?”.  Fadhalah bin Umair menjawab, “Aku tidak mengatakan apa-apa kepada diriku. Aku hanya dzikir kepada Allah SWT”. Rasulullah tertawa kemudian bersabda, “Hai Fadhalah, beristighfarlah engkau kepada Allah”. Usai bersabda seperti itu, Rasulullah saw meletakkan tangannya ke dada Fadhalah bin Umair hingga hatinya tenang. Fadhalah bin Umair berkata, “Demi Allah, Rasulullah belum mengangkat tangannya dari dadaku, tiba-tiba beliau menjadi manusia yang paling aku cintai”. Allahuma Shali Wa Salim Wabarik Alaih.

Mulai saat itu mulailah manusia, tua dan muda, laki-laki dan perempuan datang satu persatu menyatakan bai’at kepada Rasulallah saw dan beriman. Mereka berbai’at untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak berdusta, tidak menuduh orang berzina.

Nabi saw menetap di Makkah selama 19 hari dan selama penetapan itu beliau selalu mengqashar shalatnya. Beliau tinggal selama penaklukan Makkah di sebuah kemah yang didirikan di perumahan Abi Thalib. Rasulallah saw banyak melakukan hal-hal yang penting selama tinggal di Makkah diantaranya:

-          menghancurkan berhala yang berada di dalam dan sekitar Ka’bah

-          memberikan kunci Ka’bah kepada bani Syaibah dan menkukuhkannya

-          menetapkan pemberi minum jamaah haji kepada Bani Abdul Muthalib

-          memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan di atas Ka’bah

-          memperbarharui tapal batas tanah haram

-          mengirim pasukan untuk da’wah

mengutus Khalid bin Walid untuk menghancurkan patung al-Uzza milik kaum Quraisy dan Bani Kinanah, mengutus Amr bin Ash untuk menghancurkan patung Suwa’ milik kaum Huzail dan mengutus Said bin Zaid Al Asyhali untuk menghacurkan patung Manata. Semua ini dilakukan pada bulan Ramadhan

Nabi Menaklukan Makkah

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

Kemenangan demi kemenangan telah diraih oleh Rasulallah selama beliau berada di Madinah. Akhirnya beliau mengumumkan bahwa beliau hendak berangkat ke Mekkah dan memerintahkan kaum muslimin dengan serius untuk bersiap-siap. Beliau berdoa, ‘Ya Allah, rahasiakan informasi ini dari orang-orang Quraisy Makkah, agar kami bisa menyerang mereka dengan tiba-tiba di negeri mereka sendiri”. Lalu kaum muslimin pun bersiap-siap.  

Ketika Rasulullah memutuskan berangkat ke Mekkah, Hathib bin Abu Balta’ah mengirim surat kepada orang-orang Quraisy Makkah. Dalam surat-nya, Hathib bin Abu Balta’ah menjelaskan tentang keputusan Rasulullah untuk berangkat ke tempat mereka. Surat tersebut dititipkan Hathib kepada seorang wanita bayaran bernama Muzainah agar mengantarkan suratnya kepada orang-orang Quraisy. Wanita tersebut meletakkan surat Hathib bin Abu Balta’ah di kepalanya, memintalnya dengan gelungan rambut, kemudian ia berangkat ke Mekkah.

Lalu Rasululullah saw menerima wahyu dari langit tentang perbuatan Hathib bin Abu Balta’ah tersebut, kemudian beliau mengutus Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam. Beliau bersabda kepada keduanya, ”Kejarlah wanita yang membawa surat Hathib bin Abu Balta’ah yang berisi penjelasan kepada orang-orang Quraisy tentang rencana kita terhadap mereka”.

Ali bin Abu Thalib ra dan Az-Zubair bin Al-Awwam ra berangkat dan berhasil menangkap wanita tersebut disalah satu tempat. Keduanya menyuruh wanita tersebut turun dari unta dan membongkar semua barang bawaannya, namun tidak menemukan apa-apa.

Ali bin Abu Thalib ra berkata kepada wanita tersebut, ”Demi Allah aku bersumpah bahwa Rasulullah tidak berdusta dan kami tidak mendustakannya. Serahkan surat yang engkau bawa kepada kami. Kalau tidak, kami akan menelanjangimu”.

Saat melihat keseriusan Ali bin Abu Thalib ra, wanita itu ketakutan lalu berkata: ”Berpalinglah dariku”. Ali bin Abu Thalib ra berpaling, kemudian wanita tersebut membuka gelungan rambutnya dan mengeluarkan surat tersebut. Lalu diserahkannya kepada Ali bin Abu Thalib ra, kemudian Ali bin Abu Thalib membawa surat kepada Rasulallah saw. 

Rasulullah memanggil Hathib bin Abu Balta’ah dan berkata kepadanya: ”Ya Hathib, apa maksudmu melakukan hal ini?”. Hathib menjawab, ”Wahai Rasulullah, demi Allah, aku beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Aku tidak berubah dan tidak berganti agama. Hanya saja, aku ini orang yang tidak mempunyai keluarga, sedangkan anak dan istriku berada sekarang di tempat mereka. Aku bermaksud agar mereka memberi perlindungan untuk keluargaku”. Umar bin Khaththab ra yang berada disamping Nabi saw berkata, ”Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang ini, karena ia munafik”. Rasulullah bersabda, ”Hai Umar, engkau tidak tahu bahwa Allah melihat mujahidin Badar di Perang Badar, kemudian berfirman, ‘Kerjakan apa saja yang kalian inginkan, karena Aku telah mengampuni kalian”.

Rasulullah berangkat ke menunjuk Aburahman Al-Ghifari sebagai amir sementara di Madinah. Itu terjadi pada tanggal sepuluh Ramadhan, jadi, beliau berpuasa begitu juga kaum muslimin. Ketika beliau tiba di Al-Kudaid, tempat antara Usfan dengan Araj, beliau membatalkan puasanya.

Rasulullah terus berjalan bersama sepuluh ribu kaum muslimin. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ikut bersama Rasulullah sedang orang-orang Quraisy tidak mendengar informasi seputar beliau dan apa yang akan beliau lakukan. Di sisi lain, pada malam tersebut, keluarlah Abu Sofyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa’ guna mencari informasi dan melihat-lihat siapa tahu mereka mendapatkan informasi atau mendengarnya.

 

Al-Abbas bertemu dengan Abu Sofyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah dan menyarankanya untuk bertemu dengan Rasulullah saw untuk meminta perlindungan. Mereka bertemu dengan beliau di Niqul Uqab, daerah di antara Makkah dengan Madinah. Abu Sofyan bin Al-Harits menyatakan ke-Islamannya dan permohonan maafnya akan dosa-dosa masa silamnya, Para ulama mengatakan bahwa ketika Abu Sofyan bin Al-Harits masuk islam, ia melantunkan bait syair kepada Rasulullah, ”Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku, beliau menepuk dadanya, kemudian bersabda, ”Engkaulah orang yang pernah mengusirku?’”

Abu Sofyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang benar dan masuk Islam. Lalu Al-Abbas ra berkata, ‘Wahai Rasulullah, Abu Sofyan bin Harb adalah orang yang senang dengan kedudukan, oleh karena itu, berikan sesuatu kepadanya”. Rasulullah bersabda, ”Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb, ia akan aman. Barangsiapa menutup pintu rumah-nya, ia akan aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia akan aman”.

Tidak lama kemudian, berbagai kabilah berjalan menuju Makkah dengan membawa bendera masing-masing, hingga akhirnya Rasulullah lewat dengan pasukannya yang berwarna hijau. Pasukan Rasulullah dikatakan hijau karena baju besinya berwarna hijau lebih mewarnai pasukan ini. Dalam pasukan tersebut terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka semua mengenakan baju besi. Itulah Rasulullah saw bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Tidak ada satu pun orang yang mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka di Makkah.

 

Ketika Rasulullah tiba di suatu tempat yang bernama Dzi Thuwa yang terletak di daerah Jarwal yang sekarang penuh dihuni oleh penduduk Makkah, beliau berdiri di atas hewan kendaraannya, bersorban dengan separoh burdah dari Yaman yang berjahit dan berwarna merah. Beliau menundukkan wajah karena tawadhu’ dan tunduk kepada Allah SWT ketika melihat penaklukan yang diberikan Allah kepada beliau, hingga jenggotnya nyaris menyentuh bagian tengah pelananya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.