Mukadimah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang

 

Segala puji dan syukur yang patut kita panjatkan hanyalah kepada Allah. Salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada junjungan kita Rasulallah, Muhammad putera Abdillah, beserta keluarga, sahabat dan orang orang yang mengikuti jejaknya. Amma ba’du..

Sudah barang tentu, Makkah, Arafat, Muzdalifah, dan Mina merupakan tempat tempat bersejarah yang mempunyai arti penting dalam perjalanan menunaikan haji. Keemat tempat ini mempunyai kaitan kuat satu sama lain dengan waktu waktu pelaksanaannya. Makkah misalnya tempat thawaf dan sa’i di waktu haji dan umrah. Arafat merupakan tempat wukuf para jamaah haji yang jatuh bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Muzdalifah tempat persinggahan jamaah haji menuju Mina setelah wukuf di Arafah pada waktu malam tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan Mina merupakan tempat bermalam dan melempar batu jumrah pada hari hari 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Semua tempat tempat ini berkaitan erat dengan waktu waktu yang telah disyariatkan agama. Di luar waktu haji kita temukan Arafat, Muzdalifah, dan Mina tidak mempunyai arti apa apa dan kosong tidak dihuni oleh manusia.

Jelasnya, bahwa fardu haji dengan rukun rukunya pada asalnya dipetik berdasarkan tempat dan waktu peristiwa manusia manusia terdahulu, peristiwa para nabi melakukan perbuatan dan pergerakan seperti thawaf, sa’i, wukuf di Arafat, mabit atau bermalam di Mina, melempar batu di Mina dan sebagainya.

Dari sini kita bisa mengkiyaskan juga bahwa tempat-tempat bersejarah seperti tempat kelahiran Nabi saw, rumah yang dihuni Nabi saw bersama siti Khadijah, masjid masjid yang disolati Nabi saw, bukit bukit yang ditanjaki Nabi saw, gua gua yang didiami Nabi saw,  tempat tempat yang disinggahi Nabi saw, atau makam yang disemayamkan Nabi saw diperingatkan sebagai bukti nyata kecintaan manusia terhadap fitrah atau kesucian Nabi saw yang sejahtera.

Dalam peristiwa isra’ misalnya, Jibril memerintahkan Rasulullah saw agar menunaikan solat di suatu tempat. Selepas menunaikan solat, Jibril bertanya kepada Baginda Nabi saw: ”Wahai Muhammad, tahukah engkau di mana engkau bersolat?”. Rasulullah saw menjawab: ”Tidak”. Maka Jibril pun berkata: ”Engkau telah bersolat di Baitulahm di tempat dimana Nabi Isa as dilahirkan” (HR. Al-Baihaqi)

Cobalah kita lihat bagaimana Jibril mengingatkan Nabi saw hubungan atara tempat dan peristiwa kehidupan manusia terdahulu. Jibril as tidak mungkin memberitahukan beliau sesuatu yang sia sia atau tidak ada faedahnya. Ia memberitahukan bahwa tempat dan waktu mempunyai kaitan yang kuat dalam penghidupan manusia. Waktu dan tempat bisa dijadikan suatu sebab dikabulkanya doa dan permintaan.

Satu contoh yang lain, ketika Rasulullah saw memasuki kota Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura yaitu tanggal 10 Muharam. Beliau bertanya mengenai puasa mereka itu. Lalu diterangkan bahwa kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai sebagai kesyukuran yang Allah telah menyelamatkan nabi Musa as dan membinasakan musuh-Nya Firaun. Lalu Rasulullah saw bersabda: ”Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka”. Maka beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan umat Islam agar turut berpuasa. (HR. Muslim)

Di dalam hadis ini, diterangkan bagaimana peristiwa di zaman silam merupakan suatu peristiwa yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan begitu saja oleh umat, tapi Rasulullah saw mengenang dan mengagungkan peristiwa itu sehingga dikemudian hari menjadi suatu sunnah mulia yang diikuti umatnya.

Kesimpulan dari keterangan di atas bahwa Makkah dan sekitaranya merupakan tempat tempat beribadah yang mempunya kaitan kuat satu sama lain dengan waktu waktu pelaksanaannya. Kisah singkat tempat tempat bersejarah ini anda bisa dapatkan dalam buku ”Sekitar Maqam Dan Zam-Zam”. Dan buku ini merupakan catatan harian yang saya alami selama beberapa tahun saat menetap di kota Jeddah. Dalam menulis catatan ini saya banyak merujuk pada beberapa sumber baik berupa pengalaman, perjalanan dan pertanyaan yang saya ajukan kepada orang orang yang mengetahui dan ahli dalam hal ini atau merujuk kepada beberapa sumber yang berhubungan sekitar Makkah.

Saya kira catatan ini tidak mungkin bisa dikatakan mampu memberikan gambaran tentang tempat termulia, Makkah secara keseluruhan karena saya bukan ahli sejarah, namun sekurang kurangnya bisa memberikan pandangan dari sisi sisi yang penting kepada pembaca tentang kota tersebut. Tentu untuk mengetahui secara rinci tentang kota Makkah, pembaca bisa membuka buku buku yang memiliki rujukan lebih luas dan lebih mendetail.

Dalam menyusun catatan ini tentu tidak luput dari kesalahan atau kelepatan baik disengaja atau tidak disengaja. Makanya, jika didapatkan dalam catatan ini kebaikan sesungguhnya itu semata mata dari Allah dan sebaliknya jika didapatkan kelepatan sesungguhnya itu dari syaitan dan saya berlindung dari syaitan yang sesat.

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf