Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

Pada zaman Rasulullah, masidil Haram masih sangat sederhana, tak ada dinding atau bangunan beratap yang mengelilingi masjid. Masjidil haram hanya di kelilingi rumah-rumah penduduk, jalan yang menuju ke Masjidil Haram adalah gang-gang rumah penduduk yang ada di sekitar ka’bah. Diantara rumah rumah penduduk bisa menjadi pintu pintu masuk bagi orang yang ingin thawaf atau sholat di Ka’bah.  

Pada masa khilafah Umar bin Khathab ra, islam mulai menyebar keseluruh jazirah Arab, umat islam bertambah banyak, Masjidil Haram terasa sempit bagi para jama’ah haji yang berdatangan ke Makkah terutama pada musim haji sehingga beliau memandang perlu adanya perluasan Masjidil Haram. Akhirnya khalifah Umar bin Khathab ra mengambil keputusan untuk membeli rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar ka’bah, dan bagi yang keberatan menjualnya, beliau menyimpan uang harga rumah tersebut di Baitul Mal hingga akhirnya merekapun mengambilnya. Lalu rumah rumah tersebut dihancurkannya untuk perluasan Masjidil Haram. Hal ini terjadi pada tahun17 H. Menurut sejarah khalifah Umar adalah orang yang pertama melakukan perluasan masjidil haram dan membangun tembok di sekeliling masjid yang tingginya kurang lebih 1,5 meter dan memberinya pintu-pintu dan meneranginya dengan lampu-lampu gindil.

Setelah wafat Khalifah Umar ra, perluasan Masjidil Haram diteruskan oleh Khalifah kedua Ustman bin Affan ra. Karena jumlah muslimin bertamah banyak, maka pada tahun 26 H, Utsman ra menambah perluasan Masjidil Haram seperti apa yang telah di lakukan Umar bin Khathab ra yaitu dengan membeli rumah rumah penduduk di sekitar masjid. Diantara mereka ada yang keberatan menjualnya lalu meperotes, tapi perluasan terus dijalannkan oleh Utsman ra. Beliau juga membangun tembok yang mengelilingi masjid dan memberinya atap. (lihat kitab Akhbar Makkah oleh al-Azraqi)