Ka’bah Dan Dinasti Mu’awiyah

Pada kekuasaan Abdul malik bin Marwan, ia memerintahkan Hajjaj bin Yusuf Ats-tsaqafi untuk berangkat ke Makkah. Dari Makkah Hajjaj menulis surat kepada Abdul malik menerangkan tentang tambahan bangunan Ka’bah yang dibangun Abdullah bin Zubair ra. Lalu Abdul Malik bin Marwan memerintahkannya untuk menutup pintu Ka’bah bagian barat yang dibuat oleh Ibnu Zubair ra dan menghancurkan bangunan tambahan di Hijir Ismail. Kemudian Hajjaj menutup pintu Ka’bah bagian barat dan membongkar dinding ke arah Hijir ismail dan bagian Ka’bah lainnya dibiarkan. Demikianlah bentuk Ka’bah dibiarkan dalam posisi sepeti itu sampai sekarang ini.

Pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan, ia mengirim uang emas sebanyak 36.000 dinar kepada gubernurnya di Makkah, yaitu Khalid Al-Qasari. Lalu uang emas itu dilebur untuk dibuat sebagai lapisan pintu Ka’bah, pancuran Ka’bah (Mizab), tiang Ka’bah dan sudut Ka’bah bagian dalam. Semuanya dilapisi emas. Maka orang yang pertama kali melapisi Ka’bah dengan emas dalam sejarah Islam adalah Al-Walid.

 

Ka’bah Dan Sultan Murad Khan

Sekitar tahun 1039 H, turun hujan lebat di kota Mekah. Banjir besar di Masjidil Haram tidak bisa dibendung lagi, bahkan sampai mengakibatkan dinding Rukun Syami runtuh. Atas perintah Sultan Murad Khan, kemudian Ka’bah dibangun kembali, dan selesai pada tanggal 2 Dzulhijjah 1040 H. Pembangunan ini memakan waktu enam setengah bulan. Inilah pembangunan Ka’bah terakhir hingga bentuknya seperti sekarang yang kita lihat. Pintunya dinaikkan ke atas, dan Hijir Ismail tetap berada di luar bangunan kotak Kab’ah.