Dar An-Nadwah 

Tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar. Dar an-Nadwah dibangun oleh Qushay bin Kilab kurang lebih tahun 200 sebelum hijrah Nabi saw. Dinamakan Dar an-Nadwah karena dibangun khusus untuk tempat kaum Quraisy Makkah  bermusyawarat. Jika ada satu masalah besar yang sulit untuk dipecahkan, mereka semua diundang untuk datang ke Dar an-Nadwah menyelesaikan masalah tersebut bersama sama.

Salah satu contoh misalnya penyelesaian persengketaan antara mereka di saat meletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Pernah Bangsa Quraisy merobohkan Ka’bah kemudian membangunnya kembali. Di saat akan memasang kembali Hajar Aswad, suku-suku dari bangsa Quraisy terlibat pertentangan, karena mereka pada merasa paling berhak untuk mengambil tugas memasang kembali Hajar Aswad pada posisinya semula. Karena perselisihan tidak bisa diredakan, mereka bermusyawarah di Dar an-Nadwah membuat suatu keputusan siapa yang berhak meletakan Hajar Aswad ke posisinya semula. Kemudian dibuat qur’ah atau sayembara siapa yang pertama kali masuk Baitullah dari pintu Bani Syaiba, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah. Sayembara dimenangkan oleh Rasulallah saw. Akhirnya Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain dan dibawa oleh semua kabilah Quraisy. Kemudian beliau menempelkan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula. Kisah ini sangat populer.

Di Dar an-Nadwah pernah kafir Quraisy bermusyawarat untuk membendung da’wah Nabi saw dan bersepakat untuk membunuh beliau di saat mereka mendengar bahwa beliau akan berhijrah ke Madinah. 

Umar bin Khattab ra di saat menjadi khalifah, sempat mampir ke Dar an-Nadwah begitu pula para Khulafa Rasyidin lainya selalu menyempatkan untuk datang ke Dar an-Nadwah Jika berada di Makkah

Pada masa pemerintahan al-Abbasi, terjadi pemugaran di Masjidil Haram dan Dar an-Nadwah disatukan dengan masjid yang terletak sebelah utara Ka’bah. Penyatuan ini dilakukan atas usulan beberapa orang diantaranya Qadhi Makkah dan guberdur Makkah pada masa itu yang diajukan kepada Al-Mutadhid Al-Abbasi. Setelah diruntuhkan, dibangun masjid yang bergabung dengan Masjidil Haram. Bangunan ini sangat indah, beratap jati, dihiasi dengan emas, dibuat beberapa pintu dan menara. Sekarang, Dar an-Nadwah sudah dibongkar untuk perluasan Masjidil Haram. Untuk mengenang tempat yang penuh sejarah itu dibangun sebuah pintu yang dinamakan Bab an-Nadwah atau pintu an-Nadwah.