Mata Air Zubaidah

Mata Air Zubaidah terletak di wadi Nu’man. Dulu, dari sana airnya disalurkan sampai ke Arafah kemudian ke wadi ‘Uranah, lalu ke Makkah. Mata air Zubaidah dulu merupakan tempat yang sangat bermangfaat untuk peduduk Makkah dan jamaah haji. Kemudian lama kelamaan jarang digunakannya karena banyaknya mata air-mata air lainya ditemukan di Makkah. Walaupun mata air ini sudah tidak dimanfaatkan tapi ia tetap bisa dipertahankan keberadaanya sampai sekakarang ini. Usianya sudah lebih dari 12 abad. Pada tahun 1421 Pemperintah Saudi mempelajari kembali keistimewaan sumur ini agar bisa dimanfaatkan kembali.

Sekarang, siapa gerangan siti Zubaidah itu? Siti Zubaidah nama sebenarnya adalah Amatul Aziz, puteri Ja’far bin Abi Ja’far al Manshur, istri Harun Al-Rasyid, dan juga anak paman Harun Ar-Rasyid. Ia wafat tahun 212 H di kota Bagdad. disaat ia melakukan ibadah haji, kota Makkah mengalami krisis kekurangan air untuk minum jamaah haji. Air susah dicari dan harganya sangat tinggi sulit dijangkau bagi jamaah haji yang sedang membutuhkan air. Dari sini timbul inisiatif baik siti Zubaidah untuk membuat proyek besar yang diperkirakan bisa menelan biyaya yang cukup besar,  yaitu membuat saluran saluran air sumbernya diambil dari wadi Nu’man yang kemudian disalurkan ke tempat tempat jamaah haji di Makkah, Arafat, Mina dan Muzdalifah.

Mata air Zubaidah merupakan satu keajaiban yang pernah berlaku dalam sejarah Islam. Tanggul yang dibuat oleh siti Zubaidah di wadi Nu’man ini dulu airnya bisa disalurkan jauh sampai ke Arafah dan Makkah lewat Muzdalifah demi untuk kepentingan jamaah haji. Tentu di zaman itu belum ada pam bahkan listrik pun belum ditemukan atau motor yang bisa mengepam air dari wadi. Yang bisa diandalkan pada saat itu adalah tenaga kuda yang mampu menarik air dari wadi Nu’man lalu disalurkan ke saluran saluran dimana jamaah haji berada. Beliau telah menginfakan sebagian besar hartanya untuk kepentingan jamaah haji di Makkah. Jasanya dalam membangun saluran air yang dibina dari Baghdad untuk jemaah haji tidak bisa dilupakan, sehingga saluran air ini dikenali sebagai “Ain Zubaidah” (Mata Air Zubaidah).