1- Haji Nabi saw      

 

Sangat penting sekali mengetahui bagaimana Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji demi untuk bisa dijadikan tauladan bagi kita sesuai dengan sabda beliu: 

خُذُوْا عَنِّىمَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku manasik haji kalian”

Maka saya sajikan dibawah ini hadits shahih Muslim bab Hajjatun Nabiyyi saw diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra yang menerangkan cara haji Rasulullah saw, dan disertakan beberapa komentar dari ulama. Semoga bisa dijadikan tauladan bagi kita.

 

Jabir ra berkata: “Bahwa Rasulullah saw selama tinggal di kota Madinah sembilan tahun belum pernah melaksanakan haji. Kemudian diumumkan kepada manusia pada tahun ke 10 H bahwa Rasulullah saw akan melaksanakan ibadah haji. Maka banyak para sahabat yang berdatangan ke kota Madinah, semua ingin melakukan haji bersama Rasulullah saw dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Lalu kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzu al-Hulaifah.  Setiba kami ditempat ini, Asma’ binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar Shiddiq, maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah saw untuk meminta keterangannya apa yang harus diperbuatnya, beliaupun bersabda “Mandilah dan tutuplah (sumbatlah) tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah.  Kemudian Rasulullah saw melaksanakan shalat di masjid.

Nabi saw Berihram

Kemudian beliau menaiki unta al-Qashwa’ hingga tiba di padang pasir terbuka, beliau berihram dengan mengucapkan لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ  ” Ya Allah aku menjawab panggilan-Mu untuk melaksanakan haji”.

Selanjutnya Jabir berkata: “Maka aku melihat sepanjang mata memandang dari depan beliau para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan kaki, demikian pula disisi kiri beliau, disisi kanan beliau dan dibelakang beliau penuh dengan jama’ah haji, sementara Rasulullah saw berada di tengah-tengah kami, dan diturunkan wahyu kepada beliau, dan beliau mengetahui penafsirannya. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah” yang berisikan tauhid kepada Allah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ

 

“Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah dengan talbiyah yang mereka ucapkan, maka Rasulullah saw tidak membantah sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah saw terus bertalbiyah.

Selanjutnya Jabir berkata: “Kami tidak berniat kecuali haji, kami tidak mengetahui umrah.”

Nabi saw Masuk Makkah

 

“Hingga tatkala kami telah sampai di Baitullah bersamanya beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan seperti biasa pada empat putaran berikutnya. Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim dan membaca: وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى  “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat”

Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca: Qulhuwallaahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Setelah shalat beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya diatas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.

Nabi saw Antara Shafa dan Marwah

 

Kemudian beliau menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

 

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajiikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha-mensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ  “Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

Lalu beliau memulai dengan menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arahnya (kiblat). Maka beliaupun mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya, serta mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرٍيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

 

“Tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang Mahaesa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan musuh yang bersekutu dengan sendirian.”

Beliau berdo’a dan mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali. Kemudian beliau turun dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah, apabila kedua kakinya telah menginjak ditengah lembah itu, beliau berlari, hingga apabila kedua kaki-nya mulai mendaki, beliau berjalan seperti biasa, hingga tiba di Marwah, lalu menaikinya hingga melihat Ka’bah, dan beliau lakukan di Marwah seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.”

Pada tiba akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda:

أَحِلُّوْا مِنْ إِحْرَامِكُمْ فَطُوْفُوْا بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَقَصِّرُوْا وَأَقِيْمُوْا حَلاَلاً حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ فَأَهِلُّوْا بِالحَِجِّ وَاجْعَلُوْا الَّتِيْ قَدِمْتُمْ بِهَا مُتَعَةً

 

“Bertahallullah dari ihram kalian, maka thawaflah di Baitullah dan di antara Shafa dan Marwah, serta pendekkanlah (rambut-rambut kalian), dan tinggallah di Makkah sebagai orang yang halal (tidak dalam keadaan berihram) hingga datangnya hari Tarwiyah, maka berihramlah untuk haji dan jadikanlah apa yang telah kalian datang dengannya sebagai haji Tamattu’.”

Selanjutnya Jabir ra berkata: Maka bangkitlah Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang pada saat itu dia berada di kaki bukit Marwah, ia berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ عُمْرَتَنَا؟ – وَفِيْ لَفْظٍ: مُتْعَتَنَا؟- أَلِعَامِنَا هَذَا أَمْ لأَبَدٍ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ  أَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فِيْ أُخْرَى وَقَالَ: دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِيْ الْحَجَّ –مَرَّتَيْنِ- (إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ) “لاَ” بَلْ لأَبَدٍ أَبَدٍ

 

“Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang umrah kami ini? -Dalam lafadh yang lain: Tamattu’ kami ini? Apakah hanya untuk tahun kita ini saja atau untuk selamanya? Maka Rasulullah saw mencengkeramkan (menyatukan) jari-jari tangan kanannya pada jari-jari tangan kiri-nya, dan berkata: Umrah telah masuk dalam haji’, umrah telah masuk dalam haji (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”

Maka bangkitlah Rasulullah saw menyampaikan khutbah kepada para jama’ah haji, beliau memuji dan menyanjung Allah, lalu bersabda:

أَبِاللهِ تَعْلَمُوْنِيْ أَيُّهَا النَّاسُ!؟ قَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّيْ أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَ أَصْدَقُكُمْ وَ أَبَرُّكُمْ، افْعَلُوْا مَا آمُرُكُمْ بِهِ فَإِنِّى لَوْ لاَ هَدْيِىْ لَحَلَلْتُ كَمَا تَحِلُّوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَحِلُّ مِنِّى حَرَامٌ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْىُ مَحِلَّهُ ، وَلَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ

 

“Demi Allah, wahai sekalian manusia apakah kalian mengetahui aku? Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti, laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul, akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya (hingga disembelih). Seandainya dahulu aku mengetahui dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”

Maka bertahallullah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah saw dan mereka memendekkan rambut, kecuali Nabi saw dan mereka yang telah membawa binatang hadyu, dan tidak ada di antara mereka yang menggiring binatang hadyu, kecuali Nabi saw dan Thalhah bin Ubaidillah ra.

Kemudian Ali bin Abi Thalib ra tiba dari Yaman dengan membawa sejumlah unta Nabi saw, lalu ia mendapati Siti Fathimah ra (istrinya) termasuk di antara mereka yang bertahallul, ia memakai pakaian yang dicelup dengan wangi-wangian dan memakai celak mata, maka Ali ra mengingkari (perbuatannya) itu. Fathimah ra berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh ayahku untuk bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya), ketika Ali ra berada di Irak, dia berkata (menceritakan kisahnya ketika melihat Fathimah bertahallul).

“Maka aku pergi kepada Rasulullah saw, dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah saw tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah dari Rasulullah saw. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah (dalam hal tahallulnya), maka beliau bersabda: “Dia (Fathimah) benar, dia benar. Dan beliau berkata kepada Ali: “Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?” Ali berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang Rasul-Mu berihram dengannya.”

Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya): “Dengan demikian jumlah binatang hadyu yang dibawa Ali dari Yaman dan yang dibawa oleh Rasulullah saw sebanyak 100 ekor unta.”

Jabir berkata: “Maka bertahallullah seluruh jama’ah haji dan memendekkan rambut-rambut mereka, kecuali Nabi saw dan mereka yang membawa hadyu.”

Nabi saw Ke Mina Pada Hari Tarwiyah

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), para jama’ah haji berangkat menuju Mina. Ketika akan berangkat dari tempat tinggal mereka, mereka berihram untuk haji dengan mengucapkan: “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ”.

Jabir berkata: “Kemudian Rasulullah saw masuk menemui Aisyah ra sebelum berangkat ke Mina. Beliau dapati Aisyah sedang menangis, maka beliau berkata: “Apa-kah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” Aisyah berkata: “Keadaanku, aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf umrah di Baitullah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاَغْتَسِلِى ثُمَّ أَهِلِّى بِالْحَجِّ ثُمَّ حُجِّى وَاصْنَعِى مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ وَلاَ تُصِلِّى – فَفَعَلَتْ

 

“Sesungguhnya (haidh) itu adalah suatu perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah untuk haji:                لَبَيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ , lalu hajilah dan lakukanlah semua amalan yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat , maka Aisyah pun melaksanakannya.”

Kemudian Rasulullah saw mengendarai untanya dan berangkat ke Mina. Disana beliau melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh, kemudian beliau tetap menunggu disana sejenak hingga matahari terbit, lalu memerintahkan untuk mendirikan sebuah kemah dari bulu unta yang dipersiapkan untuk beliau (berteduh ketika wuquf) di Namirah (Arafah).

Nabi saw Menuju Arafah

 

Lalu berangkatlah Rasulullah saw dan orang-orang Quraisy dengan tidak ragu. Namun beliau berhenti pada Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah, disitulah tempat turun beliau, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi sebuah tempat dekat padang Arafah, dan beliau jumpai bahwasanya kemah beliau telah dibangun di Namirah (Arafah), lalu beliaupun turun ditempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau, al-Qashwa’, segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah.

Khutbah Nabi saw di Arafah

Beliau bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوْعٌ

 

“Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan dibawah kedua telapak kakiku ini.

وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَاءِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيْعَةَ ابْنِ الْحَارِثِ – كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِيْ بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ – وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ وَ أَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَا عَبَّاسٍ ابْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوْعٌ كُلُّهُ

 

“Darah-darah di zaman Jahiliyyah diletakkan/dibatalkan dari tuntutan dan tuntutan darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan dikalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku letakkan/batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan.”

فَاتَّقُوْا اللَّهَ فِيْ النِّسَاءِ وَإِنَّكُمْ أَخَذْ تُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِـمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَـكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاضْرِبُـوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَـيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

 

“Bertakwalah kamu kepada Allah dalam memperlakukan para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorang pun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki (makan) dan pakaian dengan cara yang baik.”

وَإِنِّى قدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا – لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَ أَنْتُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟ قَالُوْا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِأَصْبُعِهِ السَّبَـابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيُنْكِتُهَا إِلَى النَّاسِ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ (ثَلاَثَ مَرَّات)

 

“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? Para sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan (risalah), menunaikan (amanah) dan menasihati (ummat), lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuk-nya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat (jama’ah haji): ‘Ya Allah saksikanlah! (beliau mengucapkannya tiga kali)

Kemudian Bilal ra mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu beliau melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki berada didepannya, beliau mengahadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari terbenam dan hilangnya mega kuning, serta bola matahari tenggelam. Ketika wuquf beliau membonceng Usamah bin Zaid dibelakangnya.

Nabi saw ke Muzdalifah

 

Lalu Rasulullah saw bertolak dari Arafah dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kendali unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya (kepada para jama’ah haji) seraya bersabda:

أَيُّهَاالنَّاسُ السَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ

“Wahai manusia tenanglah, tenanglah”

Setiap kali beliau tiba dibukit pasir, beliau longgarkan kendali untanya sedikit hingga untanya mendaki.

Sesampainya di Muzdalifah, beliau melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring (tidur) hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.

Kemudian Rasulullah saw naik al-Qashwa’ hingga tiba di Masy’aril Haram, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil (mengucapkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaah) serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksanakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata:

وَقَفْتُ هَهُنَا وَالْمُزْدَلِفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

Nabi saw Melempar Jumratul ‘Aqabah

Sebelum matahari terbit, beliau bertolak (dari Muzdalifah ke Mina), beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas, ia adalah seorang yang berambut indah, berkulit putih dan berparas tampan. Ketika Rasulullah saw berangkat, maka ada beberapa wanita berlari melewati beliau, Fadhl pun melihat kepada mereka (para wanita itu), maka Rasulullah saw menempelkan tangannya diatas wajah Fadhl, lalu Fadhl memutar wajahnya ke arah yang lain, maka beliaupun memutar tangannya ke arah yang lain itu sambil memalingkan wajah Fadhl agar melihat ke arah lain, hingga beliau tiba di lembah Muhassir dan sedikit mempercepat gerak (jalan) untanya.

Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir (membaca:اللَّهُ أَكْبَرْ ) pada setiap lontaran, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:

لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ  بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

 

“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”

Nabi saw Menyembelih Binatang Hadyu

Lalu Rasulallah saw berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau, kemudian diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu binatang kurban yang selebihnya disembelih oleh Ali dan digabung-kan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.

Dalam riwayat lain: “Rasulullah saw menyembelih (hewan hadyu), lalu mencukur (rambut kepalanya sampai bersih), lalu beliau duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijjah). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu pekerjaan yang dilakukan pada hari itu yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “lakukanlah dan tidak mengapa, tidak mengapa.”

Nabi saw Thawaf Ifadhah

Kemudian Rasulullah saw mengendarai untanya, lalu bertolak ke Baitullah, kemudian melaksanakan thawaf ifadhah, dan beliau shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam (kepada para jama’ah haji), lalu berkata:

اِنْزِعُوْا بَنِى عَبْدِالْمُطَّلِبِ فَلَوْ لاَ أَنْ يَـغْلِبَكُمُ النَّاسُ لَنَزَعْتُ مَعَكُمْ فَنَاوَلُوْهُ دَلْوًا فَشَرِبَ مِنْهُ

 

“Timbalah (air zam-zam itu) wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya aku tidak merasa khawatir kamu akan dikalahkan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka meyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”

(Fiqhu Assunnah karya As-Sayyid Sabiq, Sifat Haji Nabi saw Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zinu)